Minggu, 22 Agustus 2010

JALAN MENUJU ALLAH

Banyak orang yang tersesat mencari Allah, karena tidak menyadari keberadaan Allah yang sangat dekat dengan manusia. Allah sesungguhnya tidak perlu dicari. Hanya sesuatu yang pernah hilang yang pantas dicari, sementara Allah selalu ada dimana-mana, dan tidak pernah hilang. Allah tidak pernah tidur dan selalu mengawasi gerak gerik kita. Tidak ada satu pun yang luput dari-Nya, Karena, Ia yang meliputi langit dan bumi beserta isinya



Maha suci Allah Pemberi Rahmat Alam Semesta.

Tak perlu jalan yang terjal dan sulit untuk mengenal-Nya. Untuk mengenal Allah tidak perlu rumit-rumit, tidak perlu pusing-pusing. Tidak menjadi jaminan orang yang memiliki pengetahuan agama yang luas, sudah mengenal Allah. Akal tidak mampu membuka rahasia Allah. Hanya hati orang mukmin yang mampu merasakan dan mewadahi Asmaul Husna.

Bacalah Al-Quran dengan hati penuh keimanan. Mushaf suci itu adalah kalam Ilahi yang tidak cukup dipahami dengan akal. Jangan sampai terjebak kita hanya menjadi pakar Al-Quran, tapi sesungguhnya tidak memahami hakekatnya. Hati pun tak pernah bergetar kala dibacakan ayat-ayar suci Al-Quran. Jiwa membeku tak merasakan getaran kehadiran Allah. dan, hati pun menjadi buta dengan petunjuk-Nya

Oleh karena itu, saatnya membuka jiwa dan mengasah hati agar merasakan kehadiran Allah. Namun, kita sering terhijab dengan pikiran dan perasaaan kita sendiri. Jalan menuju Allah pun akhirnya terhadang oleh tubuh kita yang sering dipenuhi nafsu amarah. Jika kita hanya dibalut dengan pikiran dan perasaan, maka kita tak akan pernah terhubung pada Yang Maha Kuasa

Namun, jika kita berzikir dengan asma-asma Allah, lisan kita, pikiran kita dan perasaan kita akan bersatu menuju Allah. Meski kesengsaraan dan kepayahan menghimpit kita, tak ada satu pun yang mampu menggoyahkan tekad jika hati sudah tertanam aqidah dan jiwa sudah menjawab panggilan-Nya.

Saat Nabi Muhammad mengajak para sahabatnya untuk berhijrah ke Madinah, bukanlah sebuah perjalanan yang mudah. Jarak tempuh dari kota Mekah sampai ke Madinah, pada saat itu hanya bisa dilalui dengan jalan kaki atau naik unta. Nabi bersama rombongan membutuhkan waktu yang lama, berbulan-bulan untuk tiba di Madinah, yang saat itu bernama Yasrib.Tak banyak umat islam yang siap menempuh medan yang berat, melewati padang pasir yang gersang dan berbahaya, apalagi dengan bekal makanan dan minuman yang terbatas. Inilah ujian yang berat bagi umat muslim. Apakah umat islam kalah dalam ujian ini? Apakah umat muslim memilih mundur dari tantangan itu?

Hanya kaum muslim yang memiliki iman yang kuat, yang berani menempuh perjalanan sulit itu Nabi tidak membutuhkan umat yang banyak dalam peristiwa hijrah itu. Nabi cukup memiliki sedikit sahabat yang benar-benar teruji imannya. Nabi tidak membutuhkan umatnya, yang berhijrah karena harta atau wanita. Karena, mereka yang terpilih adalah yang melakukan hijrah karena Allah semata

Iman adalah cahaya yang mampu menembus sekat-sekat. Daya virbrasinya kuat, hingga menggetarkan alam semesta. Inilah awal mula Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia, karena modal iman yang kuat. Islam berkembang pesat hingga saat ini setelah Nabi menanamkan pondasi aqidah, yang dipegang teguh oleh para sahabat, para tabiin serta umatnya hingga zaman ini.

Saat ini kita sudah mengucapkan syahadat sebagai sebuah kesaksian spiritual akan keesaan Allah, dan Nabi Muhammad sebagai utusan-Nya. Kita pun mengaku sudah beriman. Namun, kita sering merasakan hampa dalam kehidupan ini. Kita masih sering sedih, bingung, takut dan pesimis. Kita pun tak merasakan kehadiran Allah, karena pikiran dan perasaan kita lebih banyak terikat dalam kehidupan duniawi.
Kita merasakan kesenangan karena sensasi kesenangan duniawi baik berupa harta, tahta, istri atau anak-anak kita. Sebaliknya, kita pun menderita karena keinginan duniawi kita tak terpenuhi. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering tertambat dengan istri kita, anak-anak kita, atau harta kita. Disanalah letak persoalannya yang membuat kita sedih atau senang. Dalam sebuah hadist Nabi bersabda, “Barang siapa yang mencintai sesuatu maka bersiaplah untuk disakiti olehnya, barang siapa mencintai sesuatu maka dia akan dperbudaknya.”

Keimanan kita salah satunya ditentukan keimanan terhadap takdir baik dan takdir buruk yang menimpa kita. Iman kita sering ambruk karena gagal menerima takdir buruk dari Allah. Setiap orang baik beriman maupun tidak beriman akan menghadapi takdir Allah, namun ada perbedaaan yang mendasar. Bagi orang beriman, semua persoalan akan dikembalikan pada Allah. Semuanya milik Allah dan akan kembali pada Allah.

Semua orang baik yang beriman maupun tidak beriman akan mendapat persoalan, atau kesulitan hidup. Tidak benar ada keyakinan bahwa hanya orang yang beriman yang mendapat ujian. Kita ,orang-orang yang imannya masih tipis, tetap akan diihadang oleh takdir Allah yang mungkin rasanya pahit atau rasanya enak. Tapi ada perbedaan bagi orang yang beriman dan tidak beriman dalam menghadapi takdir Allah.

Orang yang beriman akan menyadari rahasia di balik takdir yang diberikan oleh Allah. Karena, ia selalu menghadap dan berkomunikasi dengan Allah, melalui shalatnya yang khusyu.

Kekhusyuan akan membawa kita pada tahapan ihsan, merasakan bahwa Allah selalu melihat dan mengawasinya. Bahkan, ia akan makin merasakan bahwa semua penglihatan, pendengaran, dan geraknya adalah Allah.

Tingkatan iman seperti ini tak akan tercapai jika kita masih terhalang oleh dosa kita, akal kita dan kebodohan kita. Allah tidak akan bisa ditemui jika hati kita kotor. Allah tidak akan bisa digapai dengan akal dan kepintaran kita, karena Allah Zat Yang Maha Agung. Begitu pula, kebodohan kita membuat kita miskin ilmu, untuk memahami hakekat menuju Allah.

Nabi mengajarkan pada umatnya sebuah jalan untuk menuju Allah, yaitu shalat. Seringkali kita melakukan shalat, tetapi terlalu sibuk dengan gerakan dan bacaannya. Kita tidak mampu memisahkan mana tubuh kita, mana rohani kita.

Tubuh kita cenderung pada tanah, karena memang terbuat dari tanah. Maka, tidak heran kita cenderung mencintai sesuatu yang berasal dari tanah, seperti anak-anak kita, istri kita, perhiasan dan binatang ternak.

Sementara, ruhani kita cenderung naik ke atas menuju Pemiliknya, yaitu Zat Yang Tidak bisa diserupakan dengan makhluk-Nya. Dengan shalat, ruhani kita didorong dengan kesadaran untuk meninggalkan tubuh dan mencapai orbit Ilahi. Dirikanlah shalat dengan kesadara jiwa, yang memiliki potensi ruh, karena inilah yang dipanggil Allah dan dimasukan ke golongan hamba-hamba-Nya yang diridhai-Nya

Senin, 02 Agustus 2010

KEBESARAN SHOLAT DUA RAKAAT



Allah SWT selesai menciptakan Jibril dengan bentuk yang cantik, dan Allah menciptakan pula baginya 600 sayap yang panjang , sayap itu antara timur dan barat (ada pendapat lain menyatakan 124.000 sayap). Setelah itu Jibril memandang dirinya sendiri dan berkata: “Wahai Tuhanku, adakah engkau menciptakan makhluk yang lebih baik daripada aku?.” Lalu Allah swt berfirman yang bermaksud.. “Tidak” Kemudian Jibril berdiri serta solat dua rakaat kerana syukur kepada Allah swt. dan tiap-tiap rakaat itu lamanya 20.000 tahun. Setelah selesai Jibril solat, maka Allah SWT berfirman yang bermaksud. “Wahai Jibril, kamu telah menyembah aku dengan ibadah yang bersungguh-sngguh, dan tidak ada seorang pun yang menyembah kepadaku seperti ibadat kamu, akan tetapi di akhir zaman nanti akan datang seorang nabi yang mulia yang paling aku cintai, namanya Muhammad.’ Dia mempunyai umat yang lemah dan senantiasa berdosa, sekiranya mereka itu mengerjakan solat dua rakaat yang hanya sebentar sahaja, dan mereka dalam keadaan lupa serta serba kurang, fikiran mereka melayang bermacam-macam dan dosa mereka pun besar juga. Maka demi kemuliaanKu dan ketinggianKu, sesungguhnya solat mereka itu aku lebih sukai dari solatmu itu. Kerana mereka mengerjakan solat perintahKu, sedangkan kamu mengerjakan solat bukan atas perintahKu.” Kemudian Jibril berkata: “Ya Tuhanku, apakah yang Engkau hadiahkan kepada mereka sebagai imbalan ibadat mereka?” Lalu Allah berfirman yang bermaksud. “Ya Jibril, akan Aku berikan syurga Ma’waa sebagai tempat tinggal..” Kemudian Jibril meminta izin kepada Allah untuk melihat syurga Ma’waa. Setelah Jibril mendapat izin dari Allah SWT maka pergilah Jibril dengan mengembangkan sayapnya dan terbang, setiap dia mengembangkan dua sayapnya dia boleh menempuh jarak perjalanan 3000 tahun, terbanglah malaikat Jibril selama 3000 tahun sehingga ia merasa letih dan lemah dan akhirnya dia turun singgah berteduh di bawah bayangan sebuah pohon dan dia sujud kepada Allah SWT lalu ia berkata dalam sujud: “Ya Tuhanku apakah sudah aku menempuh jarak perjalanan setengahnya, atau sepertiganya, atau seperempatnya?” Kemudian Allah swt berfirman yang bermaksud. “Wahai Jibril, kalau kamu dapat terbang selama 3000 tahun dan meskipun aku memberikan kekuatan kepadamu seperti kekuatan yang engkau miliki, lalu kamu terbang seperti yang telah kamu lakukan, niscaya kamu tidak akan sampai kepada sepersepuluh dari beberapa perpuluhan yang telah kuberikan kepada umat Muhammad terhadap imbalan solat dua rakaat yang mereka kerjakan…..”

Kebaikan dari membaca Al - Qur’an



Seorang Muslim tua Amerika bertahan hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky dengan cucu lelakinya yg masih muda. Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Al Quran di meja makan di dapurnya. Cucu lelaki nya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya. Suatu hari sang cucu nya bertanya, “Kakek! Aku mencoba untuk membaca Al Qur’An seperti yang kamu lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Al Qur’An?
Dengan tenang sang Kakek dengan meletakkan batubara di dasar keranjang, memutar sambil melobangi keranjang nya ia menjawab, “Bawa keranjang batubara ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air.” Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya.

Kakek tertawa dan berkata, “Lain kali kamu harus melakukukannya lebih cepat lagi,” Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tersebut untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap, lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah. Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakek nya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi, maka sang cucu
mengambil ember sebagai gantinya. Sang kakek berkata, “Aku tidak mau ember itu; aku hanya mau keranjang batubara itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup, maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu. Cucu nya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakek nya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah.

Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, ” Lihat Kek, percuma!” “Jadi kamu pikir percuma?” Jawab kakek.

Kakek berkata, “Lihatlah keranjangnya.” Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu telah berubah dari keranjang batubara yang tua kotor dan kini bersih, luar dalam. “Cucuku, hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca Al Qur’An. Kamu tidak bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membaca nya lagi, kamu akan berubah, luar dalam. Itu adalah karunia dari Allah di dalam hidup kita.”