Kamis, 11 November 2010

Atas Nama Keluarga



Keluarga adalah pusaran dimana banyak hal kita pertaruhkan.

Ia selalu memanggil dalam diam, mengikat dalam halus, menjangkau dalam jauh.

Siapapun kita, dimanapun kita, kita pasti terjahit oleh serat-serat keluarga.

Bahkan yang benar-benar hidup sebatang kara, masih bisa mengimajinasikan ayah & ibunya yang memang pernah nyata.



Keluarga adalah jembatan penghubung bagi keberlangsungan wujud manusia.

Keluarga adalah sumber kekuatan kita untuk terus menjalani apa yang harus. Maka pasti ada yang layak kita pertaruhkan, atas nama keluarga.



Seperti apapun, kita adalah anak dari orang tua kita.

Dalam kondisi yang lain, kita adalah juga orang tua dari anak-anak kita.

Kita mungkin juga adik dari kakak kita, atau kakak dari adik kita.

Atau paman dan bibi dari keponakan kita.

Hubungan yang terbangun dari ikatan biologis itu tidak semata soal ikatan darah dan ras.

tapi itu semua memiliki kompleksitas yang luar biasa secara kejiwaan. Maka sebuah keluarga bukan sekedar soal bertautnya fisik dengan fisik yang melahirkan fisik ketiga.

Ini adalah persenyawaan hati, rasa dan pikiran yang kesemuanya bermuara pada satu kesadaran, kesadaran akan makna keluarga.



Disini keluarga adalah tempat bermula.

Dengan ayah & ibu yang masih genap, keluarga seringkali tak sekedar tempat berawal, tapi juga tempat kita kembali.

Bahkan dalam usia kita yang tak lagi muda, dan anak-anak mungkin telah hadir, kita tetap punya saat-saat merindukan ibu, merindukan kerelaannya, kesabarannya, dekapannya, juga makanan seadanya yang menjadi sangat istimewa karena dia memasak dengan cinta.

Kita masih punya saat-saat kita merindukan ayah, suaranya yang khas, pandangannya yang khas, dan tentu saja nasehatnya yang khas.

Bila pun akses pengetahuan kita lebih maju, petuah ayah ibu selalu memiliki kedalaman arti.

Bahkan bila sebagian kita sudah tidak lagi punya mereka, atau tidak sempat melihat rupa mereka, kita masih bisa menghadirkan 'perasaan ada' dari keduanya.



Keluarga adalah sumber kekuatan kita untuk terus menjalani apa yang harus.

Pasti, ada yang layak kita pertaruhkan, atas nama keluarga...

)-(

-Sumber : majalah Tarbawi-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar